Newest Post

Tampilkan postingan dengan label Kuliah Tamu Teknik Mesin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Tamu Teknik Mesin. Tampilkan semua postingan

Kuliah Tamu : Tantangan Engineer dalam Sektor Perhubungan Indonesia

| Minggu, 25 September 2016
Baca selengkapnya »


          Selasa (20/09/2016), Jurusan Teknik Mesin ITS kembali mengadakan kuliah tamu yang menghadirkan alumni Teknik Mesin ITS angkatan M42, Bapak Yok Suprobo S.T., M.Sc selaku Kepala Sub Bidang Evaluasi dan Pelaporan pada Dinas Perhubungan. Kuliah tamu kali ini membawakan bahasan mengenai “Engineering based Regulation pada Sektor Transportasi Darat”. Bahasan sendiri difokuskan pada tantangan engineer serta contoh kasus dan analisa dari sudut pandang engineer terkait bidang perhubungan dan moda transportasi darat.

Engineer memiliki peran penting dalam pengembangan sektor perhubungan di Indonesia. Engineer disini dapat berperan menjalankan analisa terkait suatu permasalahan yang ada di lapangan. Di mana hal ini tercerminkan pada kasus-kasus yang terjadi di bidang transportasi darat akhir-akhir ini. Kasus pertama datang dari peristiwa-peristiwa kecelakaan tunggal bus yang sering terjadi. Setelah dianalisa penyebab kecelakaan didapatkan beberapa sebab, namun yang sedikit menggelitik dari banyaknya penyebab tersebut adalah terkait adanya pelanggaran pada peraturan standarisasi bus. Di mana dikarenakan banyak peraturan yang telah ditetapkan mulai dari standar dimensi kendaraan, berat kendaraan, dan uji kelayakan kendaraan ternyata tidaklah dipatuhi di lapangan. Uniknya banyak kasus yang terjadi, terlihat pihak penyelenggara moda transportasi sendiri yang mana membuat aturan tersebut malah melanggarnya sendiri. 

Beberapa pelanggaran aturan pada kasus pertama seperti ketetapan jam kerja sopir bus yang telah menetapkan jam operasi bus yaitu 4 jam beroperasi kemudian istirahat, dan melanjutkan perjalanan lagi 4 jam. Di mana bus hanya diperbolehkan beroperasi maksimal 8 jam perhari. Namun kenyataan berkata lain,  banyak sopir bus yang beroperasi lebih dari batas maksimal jam operasi tersebut. Selain itu, ditemukan pula pada beberapa bus di lapangan adanya speedometer mati, rem parkir yang tidak berfungsi, kaca bus tidak memenuhi standart keamanan, kerangka body bus yang berkarat, serta tidak adanya sabuk pengaman penumpang. Di mana hal ini tentu menyalahi aturan yang telah dibuat yang dirasa masih kurang dihiraukan oleh pihak penyelengara jasa transportasi sekarang. 

            Kasus selanjutnya datang dari moda transpotasi kereta api. Sebagai salah satu moda transportasi darat kereta api tak luput dari yang seringnya terjadi kecelakaan. Analisa kali ini tertuju pada faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Salah satu hal menarik datang dari adanya pelanggaran pada penggantian bahan rem kereta yang seharusnya menggunakan komposit namun secara “legal” diganti menggunakan cast iron yang berakibat pada penambahan waktu pengereman kereta. Sehingga dapat menyebabkan lamanya waktu pengereman kereta saat akan terjadi tabrakan. Hal unik kedua dari kasus kereta api ini datang dari pemasangan tralis di ruang masinis yang berisiko dapat mengurangi jarak pandang masinis. Pemasangan tralis ini sendiri dikarenakan akan kebutuhan perlindungan masinis terhadap sikap vandalisme terkait lemparan batu dari masyarakat.


         Selain itu faktor kelayakan infrastruktur pendukung transportasi juga masih membuahkan permasalahan baru terkait bidang transportasi di Indonesia. Seperti pada pembangunan strukur pagar pembatas di Indonesia yang menyalahi desain awal yang dimana seharusnya ditancapkan di tanah sehingga dapat mengalami ledutan untuk menahan beban tabrakan. Namun lagi-lagi fakta di lapangan berkata lain, banyak pagar pembatas tersebut malah dicor karena ditakutkan akan dicuri.

Dengan banyaknya masalah dan carut marut sektor perhubungan di Indonesia tentunya banyak pula tantangan yang harus dilalui para engineer Indonesia kedepannya. Engineer sendiri haruslah dapat memberikan analisa yang komprehensif terkait suatu permasalahan di sektor perhubungan kedepannya agar dapat ditemukan solusi atas permasalahan tersebut. Kemudian, engineer pun perlu menghadapai atmosfir birokrasi di Indonesia yang didalamnya terdapat campur aduk banyak kepentingan yang juga memiliki tujuan berbeda yang tentu dapat menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para engineer.

Di akhir kuliah tamu, Bapak Yok Suprobo S.T., M.Sc berpesan agar mahasiswa lebih kritis dalam menghadapi masalah sekitar khususnya di bidang perhubungan dan transportasi darat ini. Diharapkan adanya inovasi-inovasi baru dari mahasiswa sehingga dapat membantu memberikan solusi terbaik untuk menyelasaikan masalah dalam bidang ini. Sehingga terjalin hubungan yang sinergis antara pihak birokrasi dengan engineer dalam menghadapi tantangan sektor perhubungan.(dik/wib)

Kuliah Tamu : Tantangan Engineer dalam Sektor Perhubungan Indonesia

Posted by : Dimensi Mesin ITS
Date :Minggu, 25 September 2016
With 0tanggapan

Datangi ITS, Siemens Bahas Masalah Energi

| Rabu, 15 Juni 2016
Baca selengkapnya »


Selasa (14/06). Erick Zindel selaku Managing Director Marketing Asia and Middle East, Siemens AG berkunjung ke ITS. Dalam Kuliah Tamu di Jurusan Teknik Mesin, Erick menjawab tentang Global Energy Trend, Market, Power Plant Technologies and Renewable Energy Technologies yang merupakan topik perbincangan hangat di banyak kalangan akhir- akhir ini. 
Energi merupakan sesuatu yang cukup sensitif untuk dibahas. Seperti yang kita ketahui, energi tidak dapat benar-benar "diciptakan" melainkan harus dibangkitkan. Seiring berjalannya waktu serta berkembangnya teknologi, tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan energi dari tahun ke tahun akan semakin meningkat. Begitu pula dengan kebutuhan untuk membangkitkan energi sehingga dapat digunakan di berbagai hal.
Energi terbarukan merupakan salah satu solusi masalah energi karena masa penggunaannya yang lebih lama dari pada energi konvensional. Dalam menanggapi hal tersebut ujar Erick Zindel, Jerman yang merupakan negara maju sekarang sedang menjalankan transisi energi ke energi terbarukan. Dimana transisi energi sendiri akan mempercepat pengembangan struktur sistem pembangkitan energi maka semakin komplek pula sistem tersebut. Sehingga diperlukan Inovasi Teknologi untuk menjawab perkembangan sistem pembangkitan energi tersebut.   
Dalam perbincangan singkat tersebut Managing Director Marketing Asia and Middle East, Siemens pula menjelaskan mengenai kebutuhan energi Asia yang mengalami kenaikan tiap tahunnya. Sehingga Asia sendiri bagi Siemens merupakan target market power generation yang tinggi dan berkembang. Jika menfokuskan pada Indonesia ujar Erick, Indonesia sendiri mengalami kenaikan 5,3% dalam pemakaian power generation. Dimana membuat Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan pembangkit tertinggi di ASEAN. 
Pria Asal Jerman tersebut sendiri merasa pada pembangkit listrik di Indonesia masih terfokus pada batu bara. Padahal menurutnya, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan pembangkit listrik dengan sumber daya alam dengan lebih baik dari sekarang. Dimana seperti pembangkit tenaga gas, Indonesia yang merupakan negara tropis lebih mudah dalam mendapatkan gas bumi.
Dalam Kuliah Tamu tersebut juga timbul pertanyaan dari peserta mengenai kesiapan Indonesia dalam melaksanakan transisi energi seperti Jerman. Dimana dijawab Erick, bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk melakukan transisi energi namun membutuhkan waktu yang lama karena besarnya wilayah dan kontur wilayah di Indonesia. “Indonesia cukup sulit dalam waktu cepat berbeda dengan Jerman yang wilayahnya lebih kecil,” tuturnya

Untuk merealisasikan pembangkitan energi terbarukan sendiri, Erik Zindel merangkum beberapa tantangan bagi Indonesia.  Antara lain: pembangunan secara merata, dukungan dari pihak-pihak terkait, efisiensi pembangkit listrik, dan juga dalam hal memaksimalkan energi terbarukan. (rws/wib)

Datangi ITS, Siemens Bahas Masalah Energi

Posted by : Dimensi Mesin ITS
Date :Rabu, 15 Juni 2016
With 0tanggapan
Prev
▲Top▲