Newest Post

Jamming Together, Jamming Everywhere

| Selasa, 20 September 2016
Baca selengkapnya »



Suasana Jamming Everywhere, sumber : LINE OA MMC
Selasa, 20/09/2016. Bertempat di parkiran baru Jurusan Teknik Mesin ITS telah diadakan acara Jamming Everywhere yang mana diikuti oleh Mahasiswa Teknik Mesin. Dimana di acara ini para “rakyat mesin” disini dapat bersama-sama ber jamming ria sembari melepas penat.

Keseruan Kegiatan Organisasi Mahasiswa di Jurusan Teknik Mesin ITS memang selalu menjadi hal unggulan dari bidang kemahasiswaan Teknik Mesin. Mulai dari acara bidang otomotif, musik, keagamaan, maupun jurnalistik memiliki acara masing masing yang tentunya menyuguhkan keseruannya masing-masing. Salah satu ormawa tersebut adalah Mesin Music Club yang selanjutnya disebut MMC dimana merupakan klub yang bergerak di bidang musik. MMC sendiri telah membuahkan banyak event  seperti Engine Break, Music Cafe, dan Jamming Everywhere.

Dari banyaknya kegiatan MMC salah satu yang baru baru ini dilaksanakan adalah acara Jamming Everywhere. Namun sebelumnya perlu kita ketahui arti dari Jamming, kata jamming sendiri mungkin sedikit terasa asing ditelinga kita. Jamming dapat diartikan sebagai acara berkumpul bersama, bermain musik bersama, serta menjalin hubungan sosial bersama. Dimana dengan kegiatan jamming merupakan salah satu cara untuk mempererat tali persatuan dan kebersamaan. Arti jamming ini sendiri senada dari acara Jamming Everywhere yang di laksanakan oleh MMC sesuai perkataan Dhany selaku Ketua MMC 2016/2017. “Jamming ini ya acara untuk mahasiswa mesin dapat berkumpul, gae internalisasi “ ujarnya. 

 Acara Jamming Everywhere sendiri merupakan acara bermain musik secara bebas dengan sistem siapa saja yang ingin bermain musik maka akan dipersilahkan menuangkan kreatifitasnya. Jamming kali ini dilaksanakan dengan disediakannya alat musik oleh MMC berupa drum, gitar, bass, dan mikrofon. Kemudian Mahasiswa yang ingin meluapkan rasa hausnya akan bermusik dapat menggunakan peralatan tersebut. Selain bagi mahasiswa lain yang tak bermain musik pun masih dapat merasakan asyiknya berkumpul dan bersua dengan mahasiswa lain diiringi alunan musik yang ada.

Acara Jamming yang dilaksanakan kemarin pun dilaksanakan sebagai obat penghilang penat setelah kesibukan perkuliahan dan responsi mahasiswa mesin. Terlihat beberapa mahasiswa dengan asyik bernyanyi, bermain musik dan bersenang senang dalam acara Jamming Everywhere kali ini. Sementara mahasiswa mesin lain menikmati jalannya acara dengan membuat obrolan hangat sesama mahasiswa yang bercampur dari berbagai angkatan. Dimana hal ini memperlihatkan jalinan kedekatan mahasiswa mesin yang jadi salah satu ciri khas mahasiswa teknik mesin sejak dulu. Let’s Jamming Everywhere. (wib)







Jamming Together, Jamming Everywhere

Posted by : Dimensi Mesin ITS
Date :Selasa, 20 September 2016
With 0tanggapan

Paradigma Insinyur

| Senin, 12 September 2016
Baca selengkapnya »


Oleh: Ilman Patria (M54)
 
Pada masa lampau engineer adalah panggilan yang identik dengan orang yang belajar, merencanakan dan mampu menciptakan sebuah mesin. Dengan kata lain, engineer memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan sains menjadi sesuatu yang praktis dan bermanfaat. Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa peran insinyur adalah sebagai seorang inventor atau penemu (Speight, 2014).

Insinyur merupakan profesi yang digemari dan dinilai bergengsi oleh pelajar Indonesia. Terbukti setiap tahunnya jurusan teknik selalu menempati urutan teratas dalam passing grade dan jumlah pendaftar ke universitas negeri yang ada di Indonesia. Lalu apa yang menyebabkan pelajar Indonesia memiliki minat yang besar terhadap jurusan teknik? Cita-cita dari kecil? Passion? Paksaan orang tua? Gaji yang besar? Gengsi yang tinggi? Tiap orang tentunya punya alasan tersendiri untuk itu.

Jika berbicara passion saya sangat tertarik dengan kisah duo insinyur penemu pesawat terbang, Wright bersaudara. Orville Wright dan Wilbur Wright pada waktu itu bahkan tidak lulus sekolah menengah atas, sehingga pada tahun 1889 mereka Orville memutuskan mendirikan percetakan pribadi dengan bantuan Wilbur dan tiga tahun setelah itu mereka mendirikan bengkel sepeda. Berawal dari bengkel sepeda, mereka akhirnya dapat mendirikan perusahaan sepeda sendiri (Wright Cycle Company) dan hasil penjualannya akan dimanfaatkan untuk mendanai ketertarikan kedua saudara ini terhadap dunia penerbangan. Kebetulan pada saat itu, tahun 1890-an, insinyur-insinyur di eropa dan amerika sedang gencar mengembangkan glider.

Namun uji coba glider sering sekali memakan korban, dari permasalahan inilah timbul ide dari Wright bersaudara untuk membuat sistem kendali pada sayap agar glider dapat terbang dengan stabil. Ide pengendalian sayap ini terinspirasi dari burung yang sedang terbang di udara. Ketika ingin belok burung cukup memutar tubuhnya ke kiri atau ke kanan. Lalu fenomena ini juga sama seperti orang yang sedang mengendarai sepeda, ketika ingin belok pengendara cukup menyandarkan tubuhnya ke kiri atau ke kanan. Dengan beberapa kali pengembangan pada akhirnya Orville dan Wilbur Wright berhasil menerbangkan pesawat terbang pertama pada 17 Desember 1903 selama 12 detik di ketinggian 120 kaki.

Dari kisah Wright bersaudara kita belajar bahwa rasa ingin tahu dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang baru adalah sense yang harus dimiliki seorang insinyur. Ada keberanian yang memupuk ide, lalu ada ketekunan yang menjadi bumbu pemanis dari ide brilian itu. Kita juga belajar, untuk melakukan sesuatu yang luar biasa ternyata tidak bergantung pada level pendidikan yang telah ditempuh. Berawal dari fenomena yang sederhana sekarang dunia dapat menikmati pesawat terbang sebagai alat transportasi yang paling aman dan dapat mengantarkan manusia dari satu benua ke benua lain. Kisah Wright bersaudara hanyalah satu dari banyak kisah insinyur yang menjadi pionir perkembangan teknologi di dunia.

Pelajar Indonesia lebih senang menganggap engineering sebagai “a solution to get a lot of money”, bukan “my life” ataupun “my passion”, termasuk saya dulu ketika memilih jurusan. Di samping minat yang besar dengan jurusan teknik, ada sedikit rasa takut tidak mendapat pekerjaan lalu pada akhirnya memilih mechanical engineering sebagai profesi. Di Indonesia memang engineering lebih identik dengan jalur karir yang relatif banyak menghasilkan uang dan dinilai bergengsi. Namun, tuntutan ini-itu dan nilai akhir semester menakuti kita sehingga lupa pentingnya menikmati proses belajar selama kuliah, pentingnya menambah wawasan dengan membaca buku dan tidak pernah mencoba menantang diri dengan mencoba menyelesaikan permasalahan-permasalahan dari penelitian terdahulu ataupun permasalahan teknik yang sederhana. Saya merasa menyesal karena dari awal kuliah sering melewatkan kegiatan-kegiatan tersebut. Mahasiswa biasanya merasa disibukkan dengan kegiatan akademik dan non-akademik. Kreativitas dan kebebasan berpikir insinyur Indonesia pada akhirnya dimatikan oleh nilai akhir semester dan rasa takut tidak bisa mendapat pekerjaan yang baik.

Einstein pernah berkata, “Everything that is really great and inspiring is created by the individual who can labor in freedom”. Pernyataan Einstein ini terbukti dari kesuksesan inventor di era modern seperti yang ditunjukkan Steve Jobs, Bill Gates hingga Mark Zuckerberg. Perlu diketahui juga bahwa mulai dari Nikola Tesla, Thomas Edison, Wright bersaudara hingga ketiga inventor yang saya sebutkan tadi adalah orang yang tidak lulus/tidak sampai pada jenjang undergraduate. Sekali lagi, kisah kesuksesan mereka mendukung pernyataan Einstein, sesuatu yang luar biasa akan lahir dari kebebasan berpikir.

Leonardo Da Vinci, seorang seniman, saintis, engineer, dan juga ahli matematika adalah orang yang sangat mengagumi apa yang ia kerjakan. Dia sering mendeskripsikan keindahan di setiap karyanya. Bahkan Da Vinci sangat mengagumi bentuk dari kaki manusia, ia berkata, “The human foot is a masterpiece of engineering and a work of art”. Da Vinci mampu melihat keindahan, seni dari apa yang dilihatnya. Bill Gates juga pernah mengatakan bahwa, “Software is a great combination between artistry and engineering”. Sekali lagi, kata art/seni yang berarti “keindahan” ada didalamnya.

Dari buku The Talent Code karya Daniel Coyle disampaikan bahwa excellence atau kesuksesan bisa diperoleh dengan melakukan sesuatu secara berulang dan terus menerus, lalu pada akhirnya kita akan menemukan arti dari apa yang kita kerjakan. Keindahan dari sebuah pekerjaan akan segera ditemukan apabila ada kecintaan terhadap pekerjaan tersebut.

Sebagai mahasiswa yang masih berada pada jenjang sarjana tentunya masih punya banyak waktu untuk menentukan sikap bagaimana kedepannya. Tidak ada yang salah dengan memikirkan karir dan uang, tetapi sangat disayangkan saja apabila hidup untuk karir dan uang. Mencintai dan memahami keindahan dari apa yang dikerjakan menurut saya jauh lebih baik daripada memikirkan penghasilan, uang pensiun dan sebagainya, seperti kisah dan pemikiran orang-orang hebat yang telah saya sampaikan di atas. Dengan berprinsip seperti itu memang tidak menjamin akan mendapatkan uang yang banyak, namun yang pasti akan ada kebahagiaan dan semangat yang selalu menemani anda ketika bekerja.

Paradigma Insinyur

Posted by : Dimensi Mesin ITS
Date :Senin, 12 September 2016
With 0tanggapan
Tag :

Mengawali Kampus Madani di Pembukaan Dies Natalis ITS ke-56

| Sabtu, 10 September 2016
Baca selengkapnya »

Suasana Pelepasan Balon dalam Peresmian Dies Natalis ITS 56


Jum’at, 8/09/2016. Menyambut datangnya hari jadi its 56 tahun silam tepatnya pada 10 Nopember 1957.Maka diadakanlah acara Pembukaan Dies Natalis ITS ke-56 yang bertempat di stadion ITS Surabaya. Pembukaan Dies Natalis ke-56 ini dimeriahkan oleh seluruh civitas akademika ITS serta penampilan apik dari Defile Drumband Akademi Angkatan Laut (AAL). Pada pembukaan kali ini pun Rektor ITS pun berbicara mengenai ITS dan masyarakat madani.

Acara Pembukaan Dies Natalis ITS yang telah dilaksanakan merupakan pembuka dari rangkaian kegiatan peringatan dies natalis its yang ke-56. Dibalik gegap gempita jalannya acara, persiapan demi persiapan dilakukan oleh semua civitas akademika ITS untuk menunjukkan identititas diri seperti dresscode dan bendera fakultas yang mewarnai pemandangan. Serta suara riuh gemuruh dari nyanyian yel yel mahasiswa  dari masing masing fakultas yang ada di ITS, dimana hal ini sungguh menambah kemeriahan jalannya acara.


Suasana Kemeriahan Dies Natalis ITS
 
Pembukaan Dies Natalis ke-56 diawali dengan berkumpulnya seluruh civitas akademika ITS di Graha Sepuluh Nopember. Yang kemudian berjalan menuju Stadion ITS, tempat diselengarakannya acara dengan diiringi Tabuhan Drumband AAL serta nyanyian yel yel dari mahasiswa ITS. Selama berjalan menuju Stadion ITS terasa antusias mahasiswa saat adanya unjuk gigih melalui adu yel-yel dari masing masing fakultas di ITS. Masing-masing fakultas terlihat sangat kompak meneriakkan yel-yel mereka seolah tak mau kalah untuk memeriahkan acara tersebut. Dikumandangkannya yel yel ini sekaligus menjadi pembakar semangat para peserta pembukaan Dies Natalis hari itu.

Acara utama pembukaan Dies Natalis ITS ke-56 pun dimulai dengan dikumandangkannya lagu Indonesia Raya serta Hymne ITS. Yang kemudian, diadakannya pengibaran bendera Dies Natalis ke-56 ITS yang diiringi oleh lagu Bagimu Negeri.
 
Selanjutnya acara pembacaan Sambutan pertama datang dari Rektor ITS, Prof. Ir. Joni Hermana MSc.ES PhD, yang menyampaikan buah pemikiran beliau di usia ITS yang sudah 56 tahun ini, pada pidatonya dengan tema  “Membangun Peradaban Madani” dimana diharapkan ITS tidak hanya membina aspek yang berkarya dengan sains dan teknologi saja tetapi juga membina aspek rohaninya agar mampu menjadi manusia yang madani, manusia yang beradab baik jasmani maupun rohani sehingga keberadaan kita memberi manfaat dan keberuntungan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Menutup sambutannya, Bapak Joni juga turut meresmikan pembukaan Dies Natalis ke-56 ITS dengan dilakukannya pelepasan balon dan 56 burung merpati ke angkasa.

Suasana saat mahasiswa ITS mengumandangkan VIVAT ITS

Setelah diresmikan, acara ini kemudian ditutup dengan pertunjukkan dari tari remo, marchingband Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL), dan marching band VSNMC ITS yang baru diresmian tahun 2014 lalu. Dalam umur Kampus Perjuangan yang semakin menua tentu harapan agar ITS dapat  terus berprestasi dan berkontribusi pada Bumi Pertiwi inimerupakan suatu keharusan. Berprestasi sendiri tidak hanya terbatas pada kemenangan pada berbagai kejuaraan dan juga membuat berbagai penemuan. Namun, ITS juga harus juga berprestasi secara rohaniah dimana hal ini sudah beberapa terlaksana dengan diadakannya program seperti ITS Cinta Subuh yang menekankan pada aspek kerohanian. Dalam momentum Dies Natalies ke56 ini ITS diharap bisa menjadi Kampus Madani yang berprestasi pada segala aspek. (mel/wib)

Mengawali Kampus Madani di Pembukaan Dies Natalis ITS ke-56

Posted by : Dimensi Mesin ITS
Date :Sabtu, 10 September 2016
With 0tanggapan
Tag :
Next Prev
▲Top▲